Utuhnya Jasad Gus Dur dan Kekerasan Berbau Agama
Berita amblesnya makam Gus Dur dalam minggu lalu (Selasa 15/2/2011), yang juga memperlihatkan kalau jasadnya masih utuh dan bahkan kain kafannya yang masih bersih, akhirnya memunculkan beragam tanggapan dari masyarakat. Baik yang sinis maupun yang takjub dengan peristiwa ini. Namun ada juga yang menanggapi dengan biasa-biasa dan menduga-duga atau berspekulasi.
Peristiwa amblesnya makam Gus Dur dan terlihat kalau jasadnya masih utuh serta kain kafannya masih bersih, yang fenomena tersebut mengiringi terjadinya kerusuhan berbau SARA atau kekerasan mengatasnamakan agama yang terjadi mulai dari Pandegelang Banten, Temanggung Jawa Tengah dan terakhir di Pasuruan Jawa Timur. Seolah Tuhan memberikan peringatan akan perjuangan yang pernah diperjuangkan oleh Gus Dur semasa hidup dahulu.
Gus Mus: Ahmadiyah Sesat, tapi Jangan Disikat
Pasuruan–Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Musthofa Bisri atau Gus Mus berharap warga NU (Nahdliyin) tidak ikut-ikutan melakukan tindak kekerasan terhadap kelompok keagamaan yang dinyatakan sesat. Tindakan kekerasan, perusakan apalagi pembunuhan tidak pernah dianjurkan para pendiri dan sesepuh NU.
“Kiai-kiai seperti Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Abdul Wahab Chasbullah, Kiai Bisri Syansuri dan Kiai Hamid sendiri bukan berarti tak tahu ada Ahmadiyah, tapi beliau-beliau tak pernah menyuruh menyerbu Ahmadiyah. Sesat tetap sesat, tapi jangan disikat,” katanya.
Hal itu disampaikannya saat memberikan taushiyah di hadapan ratusan ribu warga yang hadir dalam puncak acara haul ke-29 almarhum KH Abd. Hamid dan Haul ke-20 Nyai Nafisah Hamid. Acara digelar di komplek pesantren Salafiyah, hingga pusat Kota Pasuruan.
Menurut Gus Mus, daripada mengurusi Ahmadiyah, banyak hal lain yang penting dilakukan oleh warga Nahdliyin. “Daripada bicara Ahmadiyah kita merembuk Kiai Hamid (membicarakan teladan) seperti ini, maka rahmat akan turun,” tambahnya.
Adakah Pengganti Gus Dur?
[ Jum'at, 29 Januari 2010 ]
Oleh: Salahuddin Wahid
PERTANYAKAN di atas diajukan banyak pihak menanggapi wafatnya KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (GD). Namun, karena GD adalah tokoh multifungsi, pertanyaannya harus dispesifikasikan; pengganti GD dalam kapasitas apa? Sebagai tokoh PKB atau tokoh NU? Sebagai pemikir dan pejuang HAM serta pelindung kaum minoritas? Atau sebagai tokoh pembaruan Islam?
Tampaknya, hampir tidak mungkin mencari pengganti GD di dalam PKB. Perolehan suara PKB turun drastis dalam Pemilu 2009 akibat digesernya GD dari ketua umum Dewan Syura DPP PKB. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa tanpa GD, sebenarnya PKB sudah tidak ada artinya. Yenny Wahid tidak dapat menjadi pengganti GD di PKB.
Pak Harto,Gus Dur,dan Gelar Pahlawan Nasional
Monday, 25 January 2010 6:17
Oleh; Salahuddin Wahid, Pengasuh Pesantren Tebuireng
Beberapa hari setelah Gus Dur wafat muncul usulan agar Gus Dur diberi gelar pahlawan nasional. Entah siapa yang pertama kali melontarkan gagasan itu tetapi dalam waktu singkat banyak yang mendukungnya.
Ada yang mengusulkan supaya gelar itu segera diberikan.Bahkan, Amien Rais menyatakan bahwa tidak perlu ada pertimbangan atau seminar membahas usulan itu, langsung saja Gus Dur dianugerahi gelar pahlawan nasional. Putri-putri Gus Dur mengatakan bahwa Gus Dur tidak ingin menjadi pahlawan nasional dan tanpa gelar itu pun telah menjadi pahlawan di hati masyarakat. Hal itu betul, tidak ada pahlawan yang punya ambisi menjadi pahlawan nasional.Tetapi, hal itu tidak menjadi halangan bagi negara untuk memberi mereka gelar pahlawan.
JELANG MUKTAMAR, PBNU Gelar Serasehan Tayangan Televisi yang Beretika dan Edukatif
Jakarta, NU Online
Televisi melalui tayangannya menawarkan nilai-nilai tertentu sehingga televisi dapat menimbulkan dampak tertentu pula bagi umat dan masyarakat. Tayangan dengan nilai baik akan berdampaik baik, sebaliknya tayangan dengan nilai yang buruk juga akan berdampak buruk.
Banyak tayangan TV resahkan umat
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menyatakan, hingga saat ini masih banyak tayangan televisi yang menonjolkan nilai-nilai buruk. Lebih parah lagi, peraturan-peraturan perundangan yang dibuat seolah tak mampu dan tak berdaya meredam maraknya tayangan negatif.
Terorisme dan multikulturalisme
Aksi terorisme sangat subur terjadi di bangsa yang konon dikenal sangat beradab dan damai. Para gembong teroris beraliran keras juga sangat banyak berkeliaran di Pertiwi ini yang konon pula disebut bangsa yang moderat. Beberapa realitas sosial kemudian dapat menjadi pendukung atas membanjirnya aksi terorisme dan kelompok teroris tersebut. Peristiwa bom Hotel JW Marriott tahun 2003, yang menewaskan puluhan orang dan terjadi kembali di hotel yang sama dan Hotel Ritz-Carlton pada 17 Juli 2009 dengan memakan korban sebanyak 9 orang meninggal dan 55 orang luka berat, serta kerugian sarana dan prasarana tidak sedikit merupakan satu bukti tak terbantahkan bahwa aksi terorisme cukup mengancam kehidupan bangga yang damai.
(lagi…)
Defundamentalisme Agama
Oleh: M. Zainuddin*
SATU demi satu teroris di Indonesia sudah terbunuh, mulai Azhari, Amrozi dkk sampai Noordin M. Top yang dianggap gembong dan top-nya teroris di Indonesia. Pertanyaannya adalah, apakah terorisme di Indonesia sudah tamat?
Gembong teroris di Indonesia memang sudah tertangkap, tetapi tidak dengan “terorisme”. Ini berarti pengeboman atau teror di negeri kita ini belum selesai, malah mungkin terus berlangsung, seiring perkembangan pengikut kelompok atau jamaah “Islam” garis keras itu sendiri yang memiliki jaringan internasional.
(lagi…)
Obama harus selidiki Bush
BINTANG Hollywood terkenal, Charlie Sheen, menyerukan adanya penyelidikan independen terhadap tragedi 9/11. Seruan melalui sebuah pesan video itu ia tujukan kepada Presiden Amerika Serikat
(AS), Barack Obama, kemarin.
Sheen punya pendapat berbeda dengan kebanyakan warga AS lainnya soal tragedi 9/11.
Menurutnya, pemerintahan mantan presiden George W. Bush lah yang berada di balik serangan yang menewaskan ribuan orang itu.
(lagi…)
