Utuhnya Jasad Gus Dur dan Kekerasan Berbau Agama

Oleh : Ahmad Mustofa

Berita amblesnya makam Gus Dur dalam minggu lalu (Selasa 15/2/2011), yang juga memperlihatkan kalau jasadnya masih utuh dan bahkan kain kafannya yang masih bersih, akhirnya memunculkan beragam tanggapan dari masyarakat. Baik yang sinis maupun yang takjub dengan peristiwa ini. Namun ada juga yang menanggapi dengan biasa-biasa dan menduga-duga atau berspekulasi.

Peristiwa amblesnya makam Gus Dur dan terlihat kalau jasadnya masih utuh serta kain kafannya masih bersih, yang fenomena tersebut mengiringi terjadinya kerusuhan berbau SARA atau kekerasan mengatasnamakan agama yang terjadi mulai dari Pandegelang Banten, Temanggung Jawa Tengah dan terakhir di Pasuruan Jawa Timur. Seolah Tuhan memberikan peringatan akan perjuangan yang pernah diperjuangkan oleh Gus Dur semasa hidup dahulu.

(lebih…)

Februari 22, 2011 at 5:35 am 1 komentar

Ahmadiyah Disayang, Ahmadiyah Ditendang

Jum’at, 11 Februari 2011 – 11:08 wib
Tahun 1907, seorang wanita dari kalangan elite Jerman, Carolyn, masuk Islam. Putri keluarga turunan bangsawan Prusia ini tertarik Islam setelah membaca buku-buku agama Islam yang bagus dan berstandar Eropa.

Masuk Islamnya Carolyn sangat menggemparkan orang Jerman saat itu. Maklumlah, awal abad ke- 20, wajah Islam di Eropa masih terlihat prengus dan kotor. Propaganda politik dan media massa di Eropa terhadap wajah Islam yang bengis dan menakutkan masih menghantui bangsa Jerman. Masuk Islamnya Carolyn barangkali adalah momentum penting dari “perkenalan” Islam di Jerman— negara termaju dan terbesar di dunia saat itu setelah Inggris Raya. Islamnya Carolyn pun membawa dampak besar: orang Eropa, khususnya Jerman, mulai sedikit mengurangi “alergi”-nya pada Islam. Keterkejutan berikutnya terjadi lagi pada 1982. Sebuah masjid besar berdiri di Kota Pedro Abad, kota kecil di Provinsi Cordova, Spanyol.

(lebih…)

Februari 14, 2011 at 2:19 am Tinggalkan komentar

Gus Mus: Ahmadiyah Sesat, tapi Jangan Disikat

Pasuruan–Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Musthofa Bisri atau Gus Mus berharap warga NU (Nahdliyin) tidak ikut-ikutan melakukan tindak kekerasan terhadap kelompok keagamaan yang dinyatakan sesat. Tindakan kekerasan, perusakan apalagi pembunuhan tidak pernah dianjurkan para pendiri dan sesepuh NU.

“Kiai-kiai seperti Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Abdul Wahab Chasbullah, Kiai Bisri Syansuri dan Kiai Hamid sendiri bukan berarti tak tahu ada Ahmadiyah, tapi beliau-beliau tak pernah menyuruh menyerbu Ahmadiyah. Sesat tetap sesat, tapi jangan disikat,” katanya.

Hal itu disampaikannya saat memberikan taushiyah di hadapan ratusan ribu warga yang hadir dalam puncak acara haul ke-29 almarhum KH Abd. Hamid dan Haul ke-20 Nyai Nafisah Hamid. Acara digelar di komplek pesantren Salafiyah, hingga pusat Kota Pasuruan.

Menurut Gus Mus, daripada mengurusi Ahmadiyah, banyak hal lain yang penting dilakukan oleh warga Nahdliyin. “Daripada bicara Ahmadiyah kita merembuk Kiai Hamid (membicarakan teladan) seperti ini, maka rahmat akan turun,” tambahnya.

(lebih…)

Februari 14, 2011 at 1:21 am 1 komentar

Adakah Pengganti Gus Dur?

[ Jum’at, 29 Januari 2010 ]

Oleh: Salahuddin Wahid

PERTANYAKAN di atas diajukan banyak pihak menanggapi wafatnya KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (GD). Namun, karena GD adalah tokoh multifungsi, pertanyaannya harus dispesifikasikan; pengganti GD dalam kapasitas apa? Sebagai tokoh PKB atau tokoh NU? Sebagai pemikir dan pejuang HAM serta pelindung kaum minoritas? Atau sebagai tokoh pembaruan Islam?

Tampaknya, hampir tidak mungkin mencari pengganti GD di dalam PKB. Perolehan suara PKB turun drastis dalam Pemilu 2009 akibat digesernya GD dari ketua umum Dewan Syura DPP PKB. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa tanpa GD, sebenarnya PKB sudah tidak ada artinya. Yenny Wahid tidak dapat menjadi pengganti GD di PKB.

(lebih…)

Januari 29, 2010 at 5:24 am Tinggalkan komentar

Pak Harto,Gus Dur,dan Gelar Pahlawan Nasional

Monday, 25 January 2010 6:17

Oleh; Salahuddin Wahid, Pengasuh Pesantren Tebuireng

Beberapa hari setelah Gus Dur wafat muncul usulan agar Gus Dur diberi gelar pahlawan nasional. Entah siapa yang pertama kali melontarkan gagasan itu tetapi dalam waktu singkat banyak yang mendukungnya.

Ada yang mengusulkan supaya gelar itu segera diberikan.Bahkan, Amien Rais menyatakan bahwa tidak perlu ada pertimbangan atau seminar membahas usulan itu, langsung saja Gus Dur dianugerahi gelar pahlawan nasional. Putri-putri Gus Dur mengatakan bahwa Gus Dur tidak ingin menjadi pahlawan nasional dan tanpa gelar itu pun telah menjadi pahlawan di hati masyarakat. Hal itu betul, tidak ada pahlawan yang punya ambisi menjadi pahlawan nasional.Tetapi, hal itu tidak menjadi halangan bagi negara untuk memberi mereka gelar pahlawan.

(lebih…)

Januari 28, 2010 at 6:04 am Tinggalkan komentar

NU di Tengah Maraknya Radikalisme

Oleh : Khozanah Hidayati (Anggota FPKB DPRD Jatim)

Seiring dengan lahirnya reformasi,  bermacam – macam idiologi masuk dan berkembang baik yang berhaluan ekstrim kiri sampai ekstrim kanan. Hal ini tidak bisa dihindari karena sebagai konsekuensi negara demokrasi maka tidak dibenarkan adanya larangan untuk berorganisasi atau menyatakan pendapat termasuk beridiologi beda asalkan tidak menganjurkan dan berbuat kekerasan.

Demikian juga paham-paham Islam radikal juga berkembang cukup pesat. Mulai dari paham yang gemar mengkafirkan saudara muslimnya sendiri, paham yang bercita-cita mendirikan negara Islam Nusantara, sampai paham yang bercita-cita menyatukan dunia dengan kekhalifahan.

Bahkan akhir-akhir ini marak warga IndonesIa yang bersimpati dan bergabung dengan ISIS (Islamic State of Iraq and Syam), yakni kelompok yang mengklaim sebagai Daulah Islamiyah yang dikepalai oleh Abu Bakr Al Baghdadi. Dan konon sudah lebih dari lima ratus orang Indonesia yang bergabung dengan kelompok ISIS tersebut untuk ber–“jihad” di Iraq dan Syiria. Dan bahkan beberapa kelompok radikal di dalam negeri sudah ada yang menyatakan baiat kepada kelompok ISIS ini.

Berkembangnya Islam radikal ini konon sudah menyusup ke segala lapisan masyarakat. Dari dunia kampus sampai dunia pesantren. Dari pelosok desa sampai kota. Dari yang berprofesi petani sampai pedagang. Dari yang berpangkat pamong desa sampai aparat keamanan. Ternyata mereka ini  menyusup kedalam masyarakat dengan membonceng maraknya gairah beragama yang juga marak mulai awal era reformasi.

Kenapa eksistensi kelompok radikal di negeri tercinta ini sangat marak? Untuk menjawab pertanyaan tersebut tentunya kita harus memahami perihal tujuan kelompok radikal ini melakukan aksinya dan juga harus ditelusuri bagaimana pemerintah dalam hal ini pihak aparat keamanan memperlakukan mereka selama ini.

Dan bahkan juga harus direview ulang bagaimana kelompok elit mainstream muslim negeri ini berinteraksi dengan kelompok-kelompok radikal selama ini. Apakah para elit muslim main stream negeri ini sudah melakukan pendekatan yang intensif dan benar terhadap mereka sehingga mereka tercerahi untuk tidak salah mengartikan penafsiran jihad, salah mengartikan arti daulah islamiyah maunpun salah metode melakukan dakwah.

Lebih rincinya kalau boleh penulis sederhanakan diantara penyebab suburnya perkembangan kelompok radikal adalah pertama,
gairah menemukan dan memahami ajaran agama yang dilakukan oleh sebagian masyarakat kurang mendapat respon yang baik dari para elit muslim main stream negeri ini. Sehingga akhirnya sebagian masyarakat yang pengetahuan agamanya tersebut masih dangkal mendapat bimbingan dan pencerahan keagamaan dengan pandangan yang keliru dari para kelompok radikal.

Kedua, belum adanya usaha-usaha dialog nyata dari muslim main stream negeri ini dengan para kelompok radikal. Yang ada hanya saling menyalahkan antar keduanya. Sehingga saling pengertian dan ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathoniah antar keduanya tidak bisa terwujud.

Ketiga, pendekatan yang dilakukan oleh aparat keamanan terlalu ‘security centris’. Sehingga segala sesuatu yang berbau kelompok teroris hampir selalu berakhir dengan aksi penembakan para pelaku teror. Ataupun kalau mereka tertangkap hidup-hidup, nasib mereka akan dihukum berat tanpa ada usaha penyadaran akan pemahaman keagamaan mereka yang salah dan sesat.

Keempat, kondisi sebagian masyarakat yang frustasi akan kondisi penegakan hukum di negeri ini seperti semakin merajalelanya korupsi, maraknya aksi premanisme dan mafia hukum dan sebagaianya. Akhirnya sebagian masyarakat yang sudah frustasi tersebut melirik terhadap janji-janji instan kelompok-kelompok radikal yang meniupkan angin syurga. Sehingga sebagian masyarakat tersebut bersimpati kepada kelompok radikal.

Kelima, tidak adanya pembinaan perekonomian terhadap kelompok-kelompok yang terindikasi teroris dan bersimpati terhadap teroris. Begitu mereka terindikasikan kelompok teroris seolah-olah akses mereka terhadap kegiatan perekonomian seakan-akan sengaja dipersulit, padahal sebagain besar mereka ini dari golongan ekonomi menengah kebawah, sehingga sedikit saja ada tawaran menarik dari kelompok radikal kepada mereka dengan janji syurga plus upah ribuan dolar perbulan maka mereka otomatis akan bergabung.

Agar kelompok-kelompok radikal tersebut tidak bertambah besar,  menyusup dan menyebar ke  tengah-tengah masyarakat, dan kalau memungkinkan mereka akhirnya sadar akan kesalahan ajaran yang mereka ugemi tersebut. Maka NU yang akan mengadakan muktamar pada bulan Agustus mendatang di Jombang, haruslah merumuskan strategi untuk menangkal dan membendung ajaran radikal yang mengatasnamakan agama tersebut.

Strategi tersebut harus bisa  memberikan pencerahan keagamaan yang benar berdasarkan islam rahmatan lil alamin kepada komunitas yang mempunyai gairah keagamaan yang tinggi namun menjadi target utama dari kelompok radikal,  seperti kampus-kampus perguruan tinggi,  daerah-daerah urban perkotaan, dan sebagainya.

Juga harus dirumuskan strategi untuk melakukan dialog keagamaan atau melakukan kegiatan sosial terhadap kelompok masyarakat atau organisasi keagamaan beridiologi radikal atau yang bersimpati kepada kelompok radikal agar terjadi hubungan uhuwah islamiyah dan uhuwah wathoniyah yang intent sehingga tidak ada timbul saling curiga yang akhirnya mengarah kepada perbuatan radikal ataupun terror..

Yang tidak kalah penting juga adalah strategi kerjasama dengan aparat keamanan yang bertugas menangani kelompok-kelompok teror.  Kerjasama tersebut bertujuan untuk melakukan penyadaran kepada kelompok teror agar mereka bisa memahami Islam secara benar, yakni  Islam yang damai dan rahmatan lil alamin.

Semoga nantinya strategis hasil perumusan tersebut bisa diaplikasikan dengan tepat. Sehingga Islam di Indonesia benar-benar jauh dari ajaran radikal dan ajaran teror. Dengan demikian maka negara Indonesia dengan jumlah muslim terbesar di dunia ini akan menjadi qiblat Islam dunia, semoga. (KH. 30 April 2015)

Mei 9, 2015 at 4:55 pm Tinggalkan komentar

JELANG MUKTAMAR, PBNU Gelar Serasehan Tayangan Televisi yang Beretika dan Edukatif

Jakarta, NU Online
Televisi melalui tayangannya menawarkan nilai-nilai tertentu sehingga televisi dapat menimbulkan dampak tertentu pula bagi umat dan masyarakat. Tayangan dengan nilai baik akan berdampaik baik, sebaliknya tayangan dengan nilai yang buruk juga akan berdampak buruk.

(lebih…)

Januari 28, 2010 at 5:42 am Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


Kategori

  • Blogroll

  • Feeds